MENISIK KEBERADAAN BURUNG DI SEPANJANG MANGROVE SEGARA ANAKAN (2)

~ ASIAN WATERBIRD CENSUS 2023 ~

Part 2

PLAWANGAN

 Pesona di Ujung Barat Nusakambangan

Pulau Cangak di Plawangan

Pada hari kedua, kedua perahu pengamat burung kami kembali melaju mengarugi perairan Segara Anakan. Kali ini kedua perahu menuju lokasi yang sama, yaitu suatu daerah yang dikenal dengan Plawangan, sebuah celah air di ujung barat Pulau Nusakambangan yang memisahkan sekaligus menjadi pembatas antara Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah dengan pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Setelah melewati laguna yang tenang, perahu kami tiba di muara dengan ombak yang lebih kencang, serta air yang lebih asin. Ombak besar dari Samudera Hindia terlihat menerjang bebatuan karang di ujung cakrawala. Perjalanan kami terhenti Ketika kami telah mencapai tempat tujuan. Sebuah batu karang kecil yang menjulang tinggi di tengah terjangan ombak perairan yang diapit oleh dua pulau tersebut. Beberapa burung berterbangan meninggalkan pepohonan yang tumbuh pada batu karang dengan solum tanah yang dangkal tersebut. Suara parau burung terdengar diikuti dengan kemunculan burung-burung yang bertengger di pepohonan. Sarang-sarang dan anakan burung juga dapat diamati menggunakan peralatan pengamatan yang kami bawa. Pulau tersebut telah dikuasai oleh koloni burung tersebut. Mereka adalah Cangak abu (Ardea cinerea), burung air dengan postur seperti bangau dengan leher dan kaki yang panjang, hidup berkoloni, dan gemar memangsa biota air seperti ikan, katak, dan krustasea air. Pulau tersebut ditumbuhi oleh beberapa pohon lengkap dengan tanaman merambat yang memenuhinya. Cangak-cangak tersebut menjadikan pulau tersebut sebagai tempat tinggal yang aman untuk bersarang karena letaknya yang terisolir dan sulit dijamah manusia. Burung tersebut membuat sarang dan membesarkan anaknya di pepohonan tersebut. Dapat teramati juga terdapat anak burung yang mati karena terjatuh dari sarang dan tergantung terlilit tanaman merambat. Terdapat peristiwa unik Ketika kapal kami menuju Pulau Burung tersebut, perjalanan kami teralihkan Ketika melihat seekor burung yang tergantung di tebing karang Pulau Nusakambangan. Kami berinisiatif untuk menyelamatkan burung tersebut dan bergegas menuju tebing dan dengan berhati-hati salah satu anggota tim menolong burung yang ternyata terjerat tali pancing. Burung tersebut adalah kuntul karang (Egretta sacra) yang kemudian dilepaskan dan terbang kembali di habitatnya.

TRITIH

Mencari Keberadaan Bangau Tongtong

Bukit di tengah air yang digunakan sebagai lahan pertanian

Berbeda dengan tempat-tempat sebelumnya yang nerupakan laguna yang menuju dan berada di sekitar Segara Anakan. Di hari ketiga, kedua perahu pengamatan melaju menuju lokasi yang berbeda dan lebih dekat dengan pusat kota. Tempat tersebut dikenal dengan nama Tritih, sebuah Desa di Kecamatan Cilacap Utara. Walaupun berdekatan dengan perkotaan, Tritih masih memiliki bagian yang mempunyai kondisi alam dengan kondisi yang baik. Tritih menjadi salah satu tempat tujuan pendataan burung dikarenakan daerah tersebut banyak terdapat laguna payau dengan gugusan pulau-pulau kecil dan hutan mangrove yang luas. Salah satu magnet utama untuk mengunjungi daerah Tritih adalah karena pada pengamatan di tahun-tahun sebelumnya lokasi ini menjadi lokasi perjumpaan antara tim pengamat burung dengan salah satu burung langka dan dilindungi di Indonesia, yaitu Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus). Bangau Tongtong merupakan burung besar karnivora yang memakan ikan, amfibi, dan hewan air lain yang mudah dikenali karena cara terbangnya yang membentangkan sayap dengan bulu-bulu yang sangat menjadi. Secara fisik burung ini dicirikan dengan postur yang tegap, kaki dan leher yang panjang, kepala botak, dengan leher berwarna kuning. Perjalanan tim pengamat burung di Tritih berhenti dan menepi pada sebuah bukit di tengah laguna yang digunakan oleh warga untuk bercocok tanam tanaman padi dan kacang-kacangan. Dari puncak bukit tersebut kami dapat mengamati lanskap yang lebih luas dari ketinggian yang memperlihatkan ukiran badan air dengan rerimbunan mangrove dengan burung-burung yang hinggap di pucuk tajuknya. Berdasarkan penuturan oleh para petani yang sedang menggarap lahan di tempat tersebut, di pulau bukit tersebut biasa terlihat Burung Bangau Tongtong baik saat terbang atau bertengger. Pada pagi hari dapat diamati beberapa bangau yang hinggap di semak-semak di antara mangrove di sisi timur pulau yang kemungkinan menjadi lokasinya bersarang. Namun, sangat disayangkan pada kesempatan kali ini tim pengamat belum dapat menemui burung langka tersebut di lokasi ini. Hal yang kurang beruntung, tetapi tidak menjadi pematah semangat tim kami untuk terus melakukan pendataan karena dari pulau ini, tim pengamat dapat mengamati beberapa jenis burung lain dari kejauhan.

BURUNG

Segara Anakan menyediakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk di dalamnya berbagai jenis burung. Burung merupakan salah satu kelas dalam kerajaan Animalia. Burung atau aves dicirikan dengan tubuh yang memiliki bulu, berkembangbiak dengan bertelur, memiliki paruh, dan memiliki sepasang sayap yang umumnya digunakan untuk terbang. Burung mendiami segala jenis habitat, termasuk di lahan basah seperti hutan mangrove, sungai, dan laguna. Burung yang mendiami lahan basah memanfaatkan perairan untuk mencari makan, sedangkan pepohonan di tepi badan air menjadi tempat untuk beristirahat dan membuat sarang. Burung yang mendiami dan beraktifitas di daerah perairan dan lahan basah biasa disebut dengan burung air. Keberadaan burung-burung tersebut bergantung pada kondisi lingkungan pada lahan basah. Di samping jenis-jenis burung air (Water fowl), terdapat jenis-jenis burung yang juga hidup di sekitar lahan basah tetapi tidak tergolong burung air. Burung tersebut merupakan jenis yang memiliki adaptasi untuk bertahan hidup di berbagai habitat termasuk di dekat perairan.

Berikut adalah rekapitulasi data pengamatan burung yang dijumpai selama kegiatan AWC :

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa selama pengamatan di Segara Anakan tercatat terdapat 43 jenis burung yang teramati dengan 41 spesies yang telah teridentifikasi jenisnya dan terdapat 2 famili yang tidak teridentifikasi jenisnya. Berdasarkan jumlah individu setiap spesies, burung yang paling umum dijumpai di kawasan Segara Anakan adalah burung blekok sawah (Ardeola spesiosa) sebanyak 122 individu dan burung Trinil kaki merah (Tringa tetanus) sebanyak 118 individu. Burung-burung tersebut umumnya dijumpai bergerombol dalam kawanan. Berdasarkan analisis mengenai jenis burung berdasarkan habitat, terdapat 20 jenis burung air dan 23 jenis burung non-air. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa ekosistem perairan tidak hanya mendukung eksistensi burung air, tetapi juga mejadi habitat bagi burung-burung non-air.

Burung-burung hasil pengamatan yang dikelompokkan berdasarkan status konservasi IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) didapatkan hasil dengan didominasi oleh burung-burung dengan status LC (Least concern) atau resiko rendah yang menunjukkan populasi burung-burung tersebut masih banyak di alam. Namun, terdapat 3 jenis burung yang memiliki status konservasi NT (Near Threarened) atau hamper terancam, yaitu jenis yang mungkin berada dalam keadaan terancam punah atau mendekati terancam punah, ketiga jenis tersebut, yaitu : Birulaut ekor-blorok (Limosa lapponica), Cerek jawa (Charadrius javanicus), dan itik benjut (Anas gibberifrons). Kemudian ditemukan satu jenis burung dengan status konservasi Vu (Vulnerable) atau rentan, yaitu jenis yang menghadapi risiko kepunahan di alam liar di waktu yang akan datang, burung tersebut adalah Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus). Kemudian terdapat satu jenis burung yang memiliki status konservasi EN (Endangered) atau terancam, yaitu jenis yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu dekat. Burung tersebut adalah Gajahan timur (Numenius madagascariensis) yang menjadikan burung tersebut adalah burung dengan status konservasi paling terancam yang ditemui selama pengamatan dilakukan.

Selain status konservasi yang diberikan oleh IUCN, Pemerintah Indonesia juga memiliki undang-undang yang mengatur perlindungan flora dan fauna. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, terdapat 93 jenis burung yang dilindungi. Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 11 jenis burung dengan status dilindungi oleh pemerintah. Burung tersebut adalah Kowak malam Merah (Nycticorax caledonicus), Gajahan Timur (Numenius madagascariensis), Gajahan Pengala (Numenius phaeopus), Cerek Jawa (Charadrius javanicus), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus), Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster), Alap-alap Kawah (Falco peregrinus), Bubut jawa (Centropus nigrorufus), Bubut Pacar Jambul (Clamator coromandus), Kipasan Belang (Rhipidura javanica), dan Tangkar centrong (Crypsirina temia).

Data hasil pengamatan jens dan jumlah individu burung kemudian dapat dikelompokkan berdasarkan familinya. Pengamatan di Segara Anakan dijumpai burung-burung yang terdiri dari 21 famili. Pengamatan di Segara Anakan didominasi oleh burung-burung dari famili Ardeidae dan Scolopacidae. Ardedidae merupakan jenis burung air yang memiliki kaki dan paruh yang Panjang yang digunakan untuk hidup di dekat atau di dalam lahan basah. Termasuk di dalamnya, yaitu burung-burung blekok, cangak, kokokan, kuntul, kowak malam, dan lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan, tercatat jumlah individu famili Ardeidae sebanyak 322 individu atau sebanyak 43% dari keseluruhan famili burung yang dijumpai. Scolopacidae merupakan famili burung pantai yang memiliki paruh panjang untuk memakan invertebrate kecil dari dalam lumpur atau tanah. Termasuk di dalam keluarga  Scolopacidae adalah burung gajahan, trinil, birulaut, dan lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan, tercatat jumlah individu famili Scolopacidae sebanyak 216 individu atau sebanyak 29% dari keseluruhan famili burung yang dijumpai.

Berikut adalah grafik jenis dan jumlah individu burung yang dijumpai pada AWC 2023 di Segara Anakan :

GALERI

Trinil pantai (Actitis hypoleucos)

Burung Madu Srigati (Cinnyris jugularis
Bubut Jawa (Centropus nigrorufus)

Blekok Sawah (Ardeola speciosa)

Pekaka Emas (Pelargopsis capensis)

Cangak Abu (Ardea cinerea)

Trinil Kaki Merah (Tringa totanus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *