ASIAN WATERBIRD CENSUS 2022 – KEMBALI PADA SEGARA ANAKAN

Asian Waterbird Census atau biasa disingkat AWC merupakan kegiatan sensus burung air Asia tahunan dengan basis jaringan kerja yang bersifat sukarela. Kegiatan AWC ini bertujuan untuk mendukung pemutakhiran data serta peningkatan kapasitas dan penyadartahuan publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya. Hal ini menjadi salah satu upaya terkait konservasi burung air serta lahan basah. Di tahun 2022, kegiatan AWC Indonesia diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yayasan Lahan Basah / Wetlands International Indonesia, Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, dan Burungnesia.

Bersama dengan Himpunan Mahasiswa Bio-Explorer (HMBE) Unsoed, Mapala Silvagama turut serta meramaikan AWC 2022 yang dilaksanakan mulai dari tanggal 14 hingga 16 Februari 2022. Kegiatan AWC 2022 ini semakin meriah dengan adanya keterlibatan pihak BKSDA Cilacap. Seperti beberapa tahun sebelumnya, AWC dilaksanakan di Kawasan Segara Anakan, Nusakambangan, Cilacap. Namun berbeda dengan AWC tiap tahunnya, di tahun 2021 AWC kami laksanakan di wilayah Pantai Trisik dan Muara Sungai Progo karena pembatasan berkegiatan saat pandemi yang sedang gencar-gencarnya.

14 Februari 2022. Saat sang surya belum begitu terik, kami semua berkumpul di Pelabuhan Sleko. Tak perlu deras kata, kami segera melancar kencang dengan menaiki sebuah perahu compreng. Ya, mukadimah cerita resmi kami mulai. Kami menuju spot pengamatan pertama, yakni daerah Kali Panas, Sapuragel, dan daerah hutan rawa payau Tritih. Menariknya lokasi-lokasi pengamatan ini bersandingan dengan kawasan industri Pertamina yang tentu saja kecil ataupun besar pasti memberi dampak terhadap lingkungan di sekitarnya, khususnya kualitas air dan udara. Kondisi air yang berpengaruh terhadap perolehan ikan oleh nelayan dan juga kondisi udara yang berpengaruh terhadap kehidupan burung-burung di sekitar lokasi ini.

Kilang minyak milik Pertamina
Salah satu masyarakat sekitar yang sedang memancing ikan

Tak disangka, walau berdekatan dengan lokasi industri, tidak sedikit burung yang kami jumpai. Dengan total 17 jenis burung, 15 Jenis burung berstatus konservasi IUCN Red ListLeast Concern atau LC yang berarti spesies tersebut sudah dievaluasi dan tidak dikategorikan sebagai terancam, 1 Jenis burung berstatus Vulnerable (VU) yang berarti spesies tersebut rentan mengalami kepunahan, serta 1 jenis burung berstatus Not Evaluated (NE) yang berarti spesies tersebut tidak dievaluasi berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan IUCN. Perlu diketahui kategori status konservasi IUCN Red List merupakan kategori yang digunakan oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dalam melakukan klasifikasi terhadap spesies-spesies berbagai makhluk hidup yang terancam kepunahan. 15 jenis burung yang berstatus LC, antara lain Kuntul kecil, Blekok sawah, Pekaka emas, Trinil pantai, Cangak abu, Raja udang biru, Gajahan penggala, Cekakak sungai, Raja udang meninting, Srigunting hitam, Cangak laut, Tekukur biasa, Kuntul karang, Layang-layang api, Serta Layang-layang batu. 1 jenis burung dengan status Vulnerable (VU), yakni Bangau tongtong, dan 1 jenis burung dengan status Not Evaluated, yakni Kokokan laut. Sedangkan berdasarkan PP No. 7 tahun 1999, UU No. 5 tahun 1990, dan Permen LHK RI No. P.106 tahun 2018 terdapat 6 jenis burung yang dilindungi, antara lain Bangau tongtong, Pekaka emas, Raja udang biru, Gajahan penggala, Cangak laut, dan Kuntul karang.

Burung Kokokan laut (Butorides striata) yang sedang bertengger di bekas batang pohon

Selepas dari daerah hutan rawa payau tritih, perjalanan kami lanjutkan menuju daerah Edu-wisata Arboretum Mangrove Konservasi Laguna Kawasan Segara Anakan Cilacap atau biasa disebut Arboretum Kolak Sekancil. Menariknya salah satu pengembang Arboretum Mangrove Kolak Sekancil ini adalah pihak Pertamina. Dilansir dari pertamina.com, Pertamina RU IV Cilacap telah menanam lebih dari 1,2 juta pohon mangrove dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sebagai wujud pengembangan kawasan edu-wisata mangrove yang diklaim mampu menyerap CO2 (karbondioksida). Kini Segara Anakan menjadi kawasan wisata mangrove terlengkap di Indonesia dengan 46 jenis mangrove tersertifikasi dan lebih dari 50 jenis mangrove telah teridentifikasi dengan aneka ragam flora dan fauna lainnya yang ditemukan di kawasan ini.

Menyusuri kanal-kanal yang tidak terlalu luas karena memang berimpit dengan rimbunnya mangrove cukup menyukarkan kami dalam melakukan pengamatan. Bagaimana tidak, dengan jarak yang begitu dekat dengan daratan mangrove juga perahu nan mesinnya yang gaduh membuat burung angkat kaki terbelih dahulu sebelum kami mengamati. Bahkan perahu kami sempat menyangsang si mangrove. Alhasil, tak banyak jenis burung yang kami dapati, hanya 4 jenis burung, antara lain Blekok sawah, kokokan laut, kuntul kecil, dan Bangau tongtong.

Foto pintu masuk Edu-Wisata Arboretum Mangrove Kolak Sikancil

Tak lama di sini, pengembaraan kami lanjutkan menuju rumah Bu Danuri, tempat kami berteduh selama 2 malam. Rumah Bu Danuri sendiri terletak di Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Ada yang unik di Desa Klaces ini, kami bersua dengan pucuk-pucuk pohon nipah yang terbujur sepanjang jalan. Tanaman nipah memang banyak tumbuh di wilayah tempat tinggal mereka. Nipah tersebut dimanfaatkan pucuknya untuk dijadikan lidi yang kemudian dijual melalui pengepul lidi nipah. Nantinya lidi nipah yang terkumpul akan dikirim ke daerah-daerah lain untuk dijadikan bahan kerajinan anyaman.

Daun nipah yang lazim dijumpai di pinggir jalan Desa Klaces

15 Februari 2022. Para kukila menjerit hebat saat mentari menyingsing seakan tak sabar menunggu kedatangan kami. Hari ini haluan penjelajahan kami tertuju pada daerah Ciberem 1, 2, dan 3; Laguna 3 dan 4; Lempong Pucung; serta Majingklak. Sesampainya di Ciberem dan juga Laguna, pengambilan data berlangsung khidmat. Betapa tidak, air laut yang surut mempersulit gerakan perahu sehingga untuk memperoleh gambar yang bagus kami harus terjun, berjalan dengan dengkul, bahkan merayap di lumpur. Seperti pepatah, “Kehidupan ini dipenuhi dengan seribu macam hal manis, tapi untuk mencapainya perlu seribu macam pengorbanan.” Di Majingklak-pintu Plawangan, kami dibuat ternganga oleh sebuah pulau kecil yang dihuni oleh ratusan cangak abu. “Indah sekali, Tuhan. Kamu memang Maha Asyik,” ucap salah satu dari kami. Pelega lelah pengembaraan kami tak cukup sampai disitu, di perjalanan pulang menuju rumah Bu Danuri, kami berpapasan dengan Elang tiram yang sedang bertengger di atas bekas batang pohon yang mencuat di antara perairan. Berdiri gagah seakan-akan Caleg yang sedang berkampanye diantara para ikan.

Elang tiram (Pandion haliaetus) yang sedang bertengger
Keadaan yang sedang berjalan di atas lumpur
Potret sebuah pulau kecil yang dihuni oleh ratusan cangak abu di dalamnya

16 Februari 2022. Hari ini menjadi hari pungkasan kami berada di Desa Klaces. Pendataan burung kami khatamkan di bekas tambak milik Bu Danuri, sekitar 10 hingga 15 menit dari rumah Bu Danuri ditempuh dengan kedua kaki. Tuntas sudah perjalanan AWC di tahun 2022 ini, 29 jenis burung kami temui, 9 diantaranya merupakan burung yang dilindungi, antara lain Pecuk-ular Asia, Gajahan penggala, Raja udang biru, Bubut jawa, Elang tiram, Pekaka emas, Cangak laut, Bangau tongtong, dan Bangau bluwok. Sedangkan berdasarkan status konservasi internasional yang mengacu pada daftar red list ICUN didapatkan 2 jenis burung berstatus Near Threatened, yakni Pecuk-ular Asia dan Biru-laut ekor-hitam. Kemudian 1 jenis burung berstatus Not Evaluated, yakni Kokokan laut. Selanjutnya didapatkan 2 jenis burung berstatus Vulnerable, yakni Bubut jawa dan Bangau tongtong. Selain itu, didapatkan 1 jenis burung yang berada pada status Endangered, yakni burung Bangau bluwok.

Data jenis burung yang kami peroleh kemudian dilakukan komparasi dengan data tahun 2015 hingga 2022. Kemudian dari data dari tahun ke tahun tersebut dilakukan pembuatan grafik terkait perjumpaan dengan beberapa spesies burung yang terancam punah. Dari grafik tersebut dapat dilihat adanya peningkatan dan penurunan jumlah spesies yang ditemui di lokasi pengamatan. Adanya peningkatan dan penurunan dari jumlah spesies yang ditemui ini dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain pasang surut air laut, keadaan lingkungan penelitian yang berubah, waktu pengamatan, maupun faktor lain yang mendukung keberadaan spesies di lokasi tersebut.          

Banyaknya burung yang kami jumpai merupakan salah satu bukti keagungan tuhan sang pencipta. Menjaga kelestarian alam sebagai bentuk pelestarian burung-burung yang ada menjadi salah satu tugas manusia yang diperintahkan oleh tuhan. Untuk itu, mari kita bersama-sama berperan sebagai manusia yang seutuhnya tidak hanya menafakurkan diri, melainkan juga memeka alam. Kita merawat alam, alam merawat kita.

Oleh : Muhammad Fatchul ‘Alim

Editor : Ana Khoirul Lutfia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Protected by Spam Master