MEREGUK JANTUNG BORNEO

Oleh Hamzah Ramadhani

….
Perjalanan menjajaki dan menggali potensi kekayaan alam dalam rangka Ekspedisi 50 Taman Nasional kembali kami lanjutkan. Ekspedisi 50 Taman Nasional Mapala Silvagama telah menjadi program jangka panjang yang dimulai sejak tahun 2014. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pelesatarian alam di Indonesia dengan menggali potensi alam yang terdapat pada setiap taman nasional yang kami datangi. Hingga saat ini, sudah 21 taman nasional yang telah kami eksplorasi.
Pada pertengahan tahun 2019, kami mengunjungi 2 taman nasional di Pulau Kalimantan, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung. Perjalanan kami lakukan selama satu bulan yaitu pada tanggal 31 Juli hingga 31 Agustus 2019 dengan jumlah tim lapangan sebanyak 8 orang yang terdiri dari 4 orang dari Silvagama dan 4 lainnya berasal dari Unit Fotografi UGM (UFO). Fokus penelitian kami pada kedua taman nasional terdapat pada lahan gambut. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas sangat berkaitan dengan keberadaan keanekaragaman hayatinya yang juga memiliki kekhasan dan bahkan beberapa jenis tidak ditemukan pada habitat yang lain. Indonesia memiliki area gambut terluas yaitu berkisar 20-27 juta ha (Page et al. 2011), yang tersebar di 3 pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua dengan pusat keanekaragaman hayati tertinggi berada di Kalimantan.

Taman Nasional Danau Sentarum
Perjalanan kami mulai dari Taman Nasional Danau Sentarum yang saat ini telah bergabung dengan Taman Nasional Betung Kerihun menjadi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum (TNBKDS). Kami melakukan perjalanan dari Yogyakarta menuju Pontianak kemudian Putusibbau lalu SPTN Semitau. Tujuan selanjutnya yaitu Resort Tekenang yang merupakan salah satu Resort pengelolaan taman nasional di bawah TNBKDS. Resort ini memiliki luas wilayah kurang lebih 23.000 Ha. Kantor Resort Tekenang berada di kaki bukit tekenang yang secara administratif berlokasi di Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) adalah kawasan konservasi lahan basah terbesar di Indonesia seluas 127.393,40 hektar yang terletak di hulu Sungai Kapuas, sekitar 700 km dari kota Pontianak Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Secara administratif termasuk dalam wilayah 7 (tujuh) kecamatan yaitu Kecamatan Badau, Kecamatan Nanga Kantuk, Kecamatan Batang Lupar, Kecamatan Suhaid, Kecamatan Selimbau, Kecamatan Jongkong, dan Kecamatan Bunut, yang meliputi 12 Desa defenitif dan 45 Dusun/Kampung. Secara geografis TNDS terletak diantara koordinat 0°45’- 01° 02’ LU, dan 111° 57’- 112° 20’ BT. Geologi kawasan TNDS relatif sederhana.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan TNDS selalu beriklim basah dan lembab (ever-wet climate) sehingga sangat mendukung perkembangan keanekaragaman hayati. Kondisi yang selalu basah tersebut ditunjukkan dengan terjadinya pembentukan gambut pada zaman es terakhir (Anshari et.al, 2004). Berdasarkan penelitian, tanah gambut di TNDS adalah gambut tertua berumur > 2000 tahun yang ada di bumi Kalimantan.

Pada ekspedisi kali ini, seluruh pusat kegiatan kami berada di Resort Tekenang. Kantor pengelolaan resort yang berada di bawah Bukit Tekenang ini merupakan pusat komando atau bisa di bilang seperti markas komando. Di tempat inilah kami beristirahat, menyiapkan logistik, menyusun rencana penelitian, hingga mengolah data sementara penelitian.
Kawasan TNDS dikelilingi oleh bukit-bukit dan dataran tinggi yang memungkinkan kawasan ini menjadi daerah tangkapan air. Selain terdiri atas danau-danau dan rawa yang cukup luas, lahan yang ada di sekitar kawasan (umumnya lahan gambut) juga mempunyai potensi untuk menyimpan air. Keadaan ini menjadikan kawasan TNDS mempunyai fungsi hidrologis yang sangat penting bagi pemeliharaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas. Selain itu salah satu keistimewaan TNDS adalah kekayaannya akan flora dan fauna yang hidup didalamnya. Sampai saat ini tercatat lebih dari 675 jenis tumbuh-tumbuhan, 265 jenis ikan, 310 jenis burung, 515 jenis mamalia, 8 jenis kura-kura air tawar dan 5 jenis labi-labi serta 3 jenis buaya terdapat di kawasan ini. Maka dari itu dalam ekspedisi kali ini Mapala Silvagama mengeksplorasi keanekaragaman jenis avifauna serta karakteristik biofisik gambut yang ada di di Taman Nasional Danau Sentarum. Harapannya dengan pengambilan data ini dapat membantu pihak pengelola TNBKDS ke depan baik dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, lahan basah, wisata maupun masyarakat.

Kedua resort yang kami ambil datanya yaitu Resort Tekenang dan Resort Tengkidap dijumpai sebanyak 41 jenis burung diurnal yang tergolong ke dalam 15 suku (famili), dimana 6 jenis diantaranya merupakan jenis burung yang dilindungi berdasarkan IUCN redlist. Kategori Status konservasi IUCN Red List merupakan kategori yang digunakan oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dalam melakukan klasifikasi terhadap spesies-spesies berbagai makhluk hidup yang terancam punah.
Jenis lain yang termasuk dalam kategori terancam (Endangered) Menurut IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) yaitu burung bangau stromi (Ciconia Stromi). Sedangkan jenis yang masuk dalam kategori hampir terancam (Near Treatened) sebanyak terdapat 5 jenis, yaitu sikatan melayu (Cyornis turcosus), walet raksasa (Hydrochous gigas), elang ikan kepala kelabu (Ichthyophaga ichthyaetus), brinji mata putih (Lole olivacea), dan kadalan beruang (Phaenicophaeus diardi) dan 35 jenis lainnya yang ditemukan masuk dalam kategori Least Concern.
Mengingat akan pentingnya data dan informasi mengenai berbagai potensi sumber daya alam di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum khususnya keanekaragaman jenis burung diurnal, diperlukan suatu penelitian yang berkesinambungan seperti populasi dan habitat guna memperoleh data yang lebih lengkap. Kondisi gambut yang masih terjaga di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum memerlukan kerjasama antara Badan Restorasi Gambut dan pihak pengelola Taman Nasional Danau Sentarum dalam monitoring serta upaya-upaya untuk mempertahankan kondisi kawasan agar tetap terjaga.

 

Taman Nasional Gunung Palung
Taman Nasional Gunung Palung merupakan salah satu kawasan pelestarian alam dengan keanekaragaman hayati tinggi dari berbagai ekosistem antara lain Hutan Hujan Sub Alpine, Hutan Hujan Pegunungan, Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah, Hutan Tanah Aluvial, Hutan Gambut, Hutan Rawa, Hutan Mangrove, dan Vegetasi Rheofite (RPJP TNGP, 2016). Taman Nasional ini masih berupa hutan primer yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia dan memiliki komunitas dan satwa liar (Dwi dkk., 2012).
Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat beberapa Nepenthes yang ada di Kalimantan Barat. Taman nasional ini memiliki 8 tipe ekosistem yang salah satunya adalah gambut. Potensi kekayaan ekosistem Taman Nasional Gunung Palung belum pernah diungkap secara detail. Oleh karena itu, pada tahun 2019 Mapala Silvagama melakukan ekspedisi di Gunung Palung.


Perjalanan menuju taman nasional ini dimulai dengan perjalanan menggunakan pesawat terbang menuju Bandara Rahadi Oesman Ketapang, kemudian menuju Desa Tanjung Gunung dengan menggunakan mobil dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai di Stasiun Riset Cabang Panti selama kurang lebih 7 jam dengan jarak kira-kira 19 km.
Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) berada di daerah Cabang Panti yang secara administratif terletak di Desa Tanjung Gunung, Sukadana, Kayong Utara. Secara geografis, SRCP terletak di 1o13’S,110o7’E yaitu di kaki sebelah barat Gunung Palung (1.116 mdpl) dan Gunung Panti (1.050 mdpl). SRCP memiliki area penelitian seluas kurang lebih 2100 hektar yang mencakup delapan tipe ekosistem yang berbeda. Perbedaan ekosistem itu didasari oleh perbedaan elevasi(kemiringan tanah), struktur tanah dan drainase. Berikut ekosistem-ekosistem yang ada di SRCP: hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan tanah alluvial, hutan batu berpasir, Hutan granit dataran rendah,hutan granit dataran tinggi, hutan pegunungan dan kerangas.
Stasiun Riset cabang panti merupakan stasiun riset yang memiliki pengelolaan yang bagus. Stasun riset ini memiliki satu Camp pusat dan beberapa camp kecil antara lain camp litto, camp nyamuk, camp pantai dan camp senang. Untuk sebuah stasiun riset yang berada di tengah hutan, SRCP memiliki kelengkapan penelitian yang cukup memadai. Stasiun ini memiliki Hall kecil, laboratorium penelitian, dapur beserta juru masaknya, listrik yang berasal dari genset, pembangkit listrik tenaga air (micro hydro) hingga sarana prasarana olahraga seperti meja pingpong dan sarung tinju.
Penelitian di RSCP terbilang lebih mudah dari pada di Hutan Kerinung. Seluruh area penelitian di sini sudah di petakan dan sudah memiliki jalur rintis sehingga sangat membantu kami dalam melakukan penelitian. Lokasi SRCP ini sedikit berbeda dengan kondisi ekspedisi pertama, target penelitian kami bukan hanya data biofisik gambut melainkan data biofisik tanah pada setiap ekosistem yang ada di Cabang Panti. Selain data biofisik tanah, kami juga melakukan penelitian terhadap persebaran nephenthes di berbagai ekosistem.


Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti Taman Nasional Gunung Palung ditemukan Nepenthes spp. sebanyak 5 spesies dengan jumlah 203 individu dan mendominasi di ekosistem Peat Swamp pada dataran rendah dan Montane pada dataran tinggi dengan persebaran secara mengelompok. Kantong semar di lokasi penelitian ini menopang pada pohon ulin dan paku resam. Namun juga ditemukan Nepenthes yang menjalar pada permukaan tanah. Suhu setiap ekosistem memiliki rentang antara 20°C-30°C yang merupakan suhu optimal bagi Nepenthes untuk tumbuh. Tajuk yang rapat, kelembapan tinggi, serta tanah yang bersifat asam pada area Stasiun Riset Cabang Panti mendukung Nepenthes untuk mampu tumbuh dengan baik. Nepenthes tidak ditemukan di ekosistem Lowland Granite dan Lowland Sandstone
Jenis nepenthes yang ditemukan yaitu N. ampullaria, N. hirsuta, N. mirabilis, N. rafflesiana, dan N. albomarginata. Nepenthes yang paling banyak ditemukan di Stasiun Riset Cabang Panti yaitu Nepenthes hirsuta sebanyak 95 individu dan paling sedikit yaitu Nepenthes mirabilis sebanyak 1 individu. Nepenthes ditemukan di ekosistem Peat swamp, Freshwater swamp, Alluvial bench, Kerangas, Upland granit, Montane dari 8 ekosistem yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.
Adanya Nepenthes sp. di beberapa ekosistem memberikan indikator miskinnya hara sehingga perlu adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya kerusakan atau terkikisnya unsur-unsur hara esensial di dalam ekosistem tersebut. Dari penelitian tersebut akan didapatkan langkah strategis kepada pihak pengelola untuk mencegah atau meminimalisir dampak kerusakan ekosistem yang terjadi.
Pertumbuhan Nepenthes sp. di ekosistem gambut mengindikasikan bahwa ekosistem gambut yang berada di Taman Nasional Gunung Palung masih terjaga sehingga perlu adanya kerjasama antara Badan Restorasi Gambut dan pihak pengelola Taman Nasional Gunung Palung dalam monitoring serta upaya-upaya untuk mempertahankan kondisi kawasan agar tetap terjaga. Serta perlunya memasang Early Warning System khususnya di ekosistem rawa gambut untuk mendeteksi titik api pemicu kebakaran mengingat ekosistem rawa gambut yang berdekatan dengan lahan masyarakat dan rentan akan terjadinya kebakaran.
Perjalanan Ekspedisi Taman Nasional Mapala Silvagama dalam menggali potensi keanekaragaman hayati di Indonesia akan terus berlanjut dengan kisah-kisah yang tidak kalah menarik. Menjadi suatu kebanggaan bisa menceritakan pengalaman kami dalam perjalanan ini. Sampai berjumpa di perjalanan kami berikutnya..

One thought on “MEREGUK JANTUNG BORNEO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Website Protected by Spam Master