Mengawali Tahun 2017,Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM Berhasil Melakukan Ekspedisi Di Taman Nasional Way Kambas

 

Taman nasional merupakan kawasan konservasi yang ditunjuk dan dikelola untuk usaha perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan ekosistem secara lestari. Setiap taman nasional memiliki berbagai keindahan alam yang tersimpan di dalamnya sehingga hal tersebut menjadi potensi khususnya pada bidang pariwisata. Di Indonesia terdapat 52 Taman Nasional yang tersebar di seluruh nusantara dan menyimpan keunikan kekayaan alamnya masing-masing. Dari 52 Taman Nasional yang ada di Indonesia, Taman Nasional Way Kambas merupakan taman nasional yang masyhur dengan keragaman jenis mamalia besar yang ada.

Pada bulan Januari lalu, enam anggota Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM berhasil melakukan eksplorasi di Taman Nasional Way Kambas yang menjadi salah satu ASEAN Heritage Park di tanah Sumatera. Enam anggota yang tergabung dalam tim Ekspedisi 50 Taman Nasional tersebut adalah Aniyah Riansari, Adinda C. Milaba, M. Reza Ananta P, Febrian E. Nugraha, Astried Canthika H., dan Okti Fathony Purnama.

Ekspedisi 50 Taman Nasional merupakan salah satu program Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM dalam upaya memperkenalkan hal-hal menarik maupun isu yang ada di setiap taman nasional di Indonesia dan meningkatkan kesadartahuan melalui berbagai kajian ilmiah kepada khalayak umum. Pada setiap ekspedisi yang dilakukan mengangkat tema khusus sesuai dengan potensi yang dimiliki dan pada ekspedisi yang dilakukan di Taman Nasional Way Kambas ini mengangkat tema “Usaha Konservasi Fauna Langka”.

“Eksplorasi yang dilakukan tim lapangan mengenai usaha konservasi fauna langka membuka informasi mengenai bagaimana pihak taman nasional beserta mitra-mitra yang turut bekerja sama melindungi ekosistem Taman Nasional Way Kambas” ujar Adinda C Milaba selaku Ketua Ekspedisi 50 Taman Nasional.

Usaha Konservasi

Taman Nasional Way Kambas merupakan kawasan konservasi yang berorientasi pada pengelolaan populasi dan habitat satwa-satwa langka khususnya mamalia. Di samping orientasi tersebut, Taman Nasional Way Kambas turut berkolaborasi dengan berbagai mitra yang diantaranya adalah Suaka Rhino Sumatera (SRS), Pusat Konservasi Gajah (PKG), dan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS), .

Ekspedisi yang dilakukan di Taman Nasional Way Kambas ini dilakukan selama 13 hari dengan melakukan observasi serta temu dengan Balai Taman Nasional Way Kambas dan lembaga-lembaga yang terkait dengan usaha konservasi fauna langka tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Subakir S.H., M.H mengutarakan bahwa Taman Nasional Way Kambas memiliki lima jenis mamalia yang menjadi satwa prioritas konservasi atau dikenal sebagai The Five Mammals yakni Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Tapir (Tapirus indicus), dan Beruang Madu  (Helarctos malayanus).

Foto gajah di PKG

Kelompok Gajah Sumatra yang Dilepas di Kawasan TNWK oleh PKG

“Kerjasama lembaga-lembaga yang concern terhadap jenis-jenis fauna tersebut sangat membantu kami dalam usaha pelestarian fauna di kawasan Taman Nasional Way Kambas” lanjutnya.

Di tengah maraknya perburuan yang mengancam populasi satwa pada kawasan taman nasional, Balai Taman Nasional Way Kambas berusaha agar angka perburuan satwa terus berkurang. Selain itu ekosistem yang ada di dalam kawasan juga dijaga kelestariannya terutama yang menjadi habitat jenis-jenis fauna yang dilindungi.

Foto Badak di SRS

Individu Badak Sumatra di Suaka Rhino Sumatra (SRS)

Terus Berlanjut

Ekpedisi yang dilakukan oleh Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan ini menjadi gong pembuka bagi kegiatan Ekspedisi 50 Taman Nasional di tahun 2017. Nantinya, data yang diperoleh akan dipublikasikan, terutama mengenai usaha konservasi di Taman Nasional Way Kambas.

“Kami sangat mengapresiasi mahasiswa yang antusias turun ke lapangan untuk menguak isu, potensi dan kondisi taman nasional serta mempublikasikannya ke masyarakat” ujar Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas.
Sumber : Interview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *