
Kepulauan Karimata merupakan salah satu cagar alam laut yang dimiliki Indonesia yang terletak di bagian barat Provinsi Kalimantan Barat. Pulau Karimata memiliki 4 ekosistem yaitu ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem hutan tropis dataran rendah, dan ekosistem terumbu karang. Variasi ekosistem di dalam pulau ini memungkinkan adanya keanekaragaman jenis flora dan fauna yang unik, karena keadaan geografis, wilayah Pulau Karimata yang merupakan sebuah kepulauan yang terpisah berjauhan sehingga mendorong terjadinya proses spesiasi.
Pulau Karimata memiliki sumber daya alam peralihan yang khas antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang awalnya merupakan satu kelompok kerak benua yang dikenal sebagai Dangkalan Sunda. Keunikan dan kekhasan sumber daya alam tersebut didukung dengan kondisi bentang alam Pulau Karimata. Pulau ini dikelilingi oleh wilayah perairan laut, menyebabkan pulau ini terisolir karena tidak ada koridor penghubung antar pulau disekitarnya.
Sampai saat ini informasi mengenai sumber daya alam berupa flora dan fauna di Pulau Karimata yang tersedia masih terbatas. Karena sedikitnya penelitian dan data yang ada mengenai Pulau Karimata, oleh sebab itu perlu diadakannya survei awal untuk melihat dan mengetahui secara langsung potensi yang terdapat di Pulau Karimata. Pada tanggal 11 Juli 2011 survei telah dilakukan beranggotakan Sulih Pramana Putra., Setia Purbo Kawido, dan Dwiki Parisha. Survei yang dilaksanakan selama 19 hari itu telah memberi informasi dasar bagaimana gambaran Pulau Karimata.
POTENSI FAUNA
Berdasarkan survei pengamatan langsung di lapangan dan informasi dari masyarakat setempat satwa, mamalia yang kami bisa dijumpai meliputi tupai tiga warna (Callosciurus prevostii), babi hutan (Sus Sucrofa), babi berjenggot (Sus barbatus), kera merah (Phresbistis rubicunda), kera ekor panjang (Macaca fasicularis), krabungkuk (Tarsius bancanus), kancil (Tragulus javanica), dan pelanduk (Tragulus napu). Beberapa reptil antara lain, biawak (Varanus salvator), buaya (Crocodilus porosus), ular piton (Phyton reticulatus), dan penyu sisik (Eritmochyles imbricate). Sedangkan dari aves terdapat elang bondol (Haliastur indus), elang laut (Haliaeetus leucogaster), burung tiong emas (Gracula religiosa), kucica hutan (Copsychus malabaricus), sikatan bakau (Cyornis rufigaster), cabai bunga api (Dicaeum trigonostigma), madu sriganti (Nectarinia jugularis), dara laut putih (Gygis alba), cangak laut (Ardea sumatrana), camar kepala hitam (Larus ridibundus), dan pergam laut ( Ducula bicolor).
Buaya muara dapat di jumpai di sekitar muara Sungai Beto, Sungai Are dan Sungai Gelombang dan hanya aktif bergerak pada saat malam hari. Habitat Buaya muara di Pulau karimata banyak dijumpai di hutan bakau sekitar muara sungai. Biawak, kera merah, dan kera ekor panjang ditemukan di sepanjang Tanjung Senna dan Teluk Alam. Elang bondol dan elang laut perut putih dapat dijumpai di seluruh pantai Pulau Karimata pada waktu pagi maupun sore hari dengan jumlah yang bervariasi. Terkadang kedua jenis elang tersebut terbang bersamaan dalam satu tempat, sedangkan jenis camar dan dara laut ditemukan di karang Tanjung Senna dan di kepulaun kecil di sekitar pulau Karimata.
Dari sekian jumlah satwa di Pulau Karimata, ada satu jenis satwa yaitu babi (Sus scrova) yang populasinya tergolong besar di Pulau Karimata ini. Perkembangbiakan Babi (Sus scrova) di Pulau Karimata sangat tinggi. Selain babi (Sus scrova), ada juga jenis Babi berjenggot (Sus barbatus) terdapat di pulau ini. Babi berjenggot (Sus barbatus) di Pulau Karimata sudah sangat jarang dan sulit ditemui. Untuk itu, perlu adanya penelitian untuk mengetahui jumlah populasi babi berjenggot (Sus barbatus) saat ini, apakah hewan ini menurun populasinya ataukah sudah langka keberadaanya, karena dulu pernah dilaksanakan penelitian tentang ini yang dilakukan oleh orang Belanda pada tahun 1880. Di pulau ini pun pada musim-musim tertentu terdapat penyu yang menepi untuk bertelur. Namun permasalahanya, ketika penyu bertelur di pinggir pantai ada saja orang yang mengambil telur-telur penyu ini untuk dikonsumsi ataupun dijual.
POTENSI FLORA
Keanekaragaman jenis tumbuhan yang tumbuh di Pulau Karimata yang menempati di beberapa ekosistem memiliki kerapatan tegakan yang cukup tinggi dan juga susunan yang cukup teratur. Ekosistem hutan mangrove hampir bisa ditemui ditiap tepi pantai di Pulau Karimata. Tegakan hutan mangrove sangat rapat sehingga sangat sulit untuk dilewati. Di belakang barisan hutan mangrove terdapat ekosistem hutan pantai yang cukup luas juga. Hutan Dataran rendah di dominasi oleh pohon gelam dan pohon keruing, sedangkan tumbuhan bawah banyak di temui jenis kantong semar. Hutan Pantai masih banyak di jumpai pohon penaga dan pohon cemara laut yang tumbuh secara alami. Dari beberapa jenis pohon yang ditemui, terdapat variasi spesies, seperti pohon penaga ditemukan spesies yang berbuah besar dan berbuah kecil.
Kebutuhan akan hasil hutan berupa kayu bagi masyarakat Pulau Karimata sangat tinggi karena mayoritas mata pencaharian masyarakat adalah nelayan dan untuk membuat kapal atau sampan, masyarakat masuk ke hutan dan mengambil kayu untuk membuat kapal. Dahulu masih gampang mencari pohon-pohon yang berdiameter besar, namun sekarang sudah sulit menemukan pohon dengan diameter besar atau dapat dikatakan kondisi hutan Pulau Karimata saat ini mengalami degradasi. Kayu yang biasa dipakai untuk membuat kapal adalah kayu dari pohon belian, resak, gelam, dan pelaik. Potensi flora yang sangat kaya di Pulau Karimata ini tidak diseimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.
Hutan di Cagar Alam Laut Pulau Karimata ini tidak dijaga dengan baik. Masalah penebangan pohon yang jelas adalah tindakan yang ilegal pada hutan berstatus cagar alam sering dilakukan. Terdapat penebang pohon kelapa yang datang dari luar pulau yang mengeksploitasi pohon kelapa di pulau ini. Ada juga tindakan dari warga yang membuka lahan hutan, melakukan penebangan, karena keinginannya mengkonversi menjadi kebun.
POTENSI SOSIAL
Pulau Karimata terdapat 2 desa yaitu Desa Padang dan Desa Betok Jaya. Desa Betok memiliki 3 Dusun yang meliputi Dusun Betok Jaya, Dusun Klumpang dan Dusun Serutu yang terbagi menjadi 10 RT. Desa Betok terdapat 222 KK dan memiliki jumlah total penduduk 1002 jiwa. Sarana dan Prasarana yang ada di Desa Betok meliputi masjid, Sekolah Dasar , SMP, Pusat Pelayanan Kesehatan (Puskesmas), Pusat pelayanan telekomunikasi dan Informasi (Pusyantip), kantor Desa Betok , jalan desa, dan dermaga. Masyarakat Betok Jaya mayoritas bekerja sebagai nelayan dan berladang (kelumpang).
Fasilitas pendidikan di Desa Betok Jaya meliputi SD Satap 09 dan SMP 08 Satap. SD 09 Satap memiliki jumlah 69 siswa dan SMP 08 Satap memiliki jumlah 15 siswa . Fasilitas yang tersedia di SD Satap 09 berupa 4 ruang kelas dan satu ruang guru, dan satu gedung perpustakaan dan Rumah Guru Sementara (dalam proses pembangunan). Sedangkan SMP 08 Satap memiliki 3 ruang kelas dan satu kantor guru . Tenaga pengajar kedua sekolah tersebut berjumlah 9 guru termasuk kepala sekolah. Selain di Dusun Betok sarana sekolah juga terdapat di Dusun Klumpang dan Dusun Serutu.
Desa Padang mayoritas penduduk beragama Islam dan jumlah penduduk menurut data desa tahun 2010 berjumlah 1.811 jiwa. Desa padang terdiri 4 dusun yaitu Dusun Pantai Lestari, Dusun Sungai Abon, Dusun Tanjung Uru, Dusun Benteng Jaya. Sarana dan prasarana yang ada berupa jalan umum (kurang lebih 13 km), masjid, kantor desa, SD, SMP, air bersih yang berasal dari Sungai Merah, Puskesmas dan Pusyantip. Masyarakat Desa Padang mayoritas bekerja sebagai nelayan dan sedikit yang berladang. Pendapatan masyarakat dari hasil laut lumayan besar. Pada musim cumi nelayan menjual cumi kering seharga Rp 100.000,- dan cumi basah seharga Rp 30.000,-.
Permasalahan yang sering dihadapi masyarakat Desa Betok adalah adanya pencari ikan yang menggunakan bom dan masalah pendidikan yang mana banyak guru yang jarang hadir didalam melakukakan kegiatan mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Pulau Karimata.
Masyarakat Pulau Karimata memiliki kearifan lokal tersendiri, kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan tiap hari, maupun kebiasaan dalam berkehidupan sosial. Secara umum, sebenarnya penduduk Pulau Karimata adalah pendatang yang berasal dari suku melayu,bugis,jawa,dll, maka dari itu kebudayaan yang ada adalah kolaborasi dari berbagai daerah dan juga agama. Dari perbedaan suku ini tetapi tinggal di dalam lingkungan fisik yang sama dalam waktu yang lama akhirnya timbul kearifan lokal tersendiri yang membedakan dengan penduduk lain Pulau Karimata.
Kebudayaan di Pulau Karimata tidak lepas dari kebudayaan agama Islam, karena di pulau ini memang dulunya pernah sebagai pintu masuk permulaan agama islam di Indonesia. Dari sini lah kebiasaan yang ditinggalkan menjadi kebudayaan yang dimiliki Pulau Karimata seperti, pelaksanaan syukuran di tiap rumah sebelum memasuki bulan puasa, seni musik marawis,dll. Disini juga ada budaya sedekah bumi atau sedekah laut.
Di Pulau Karimata ini terdapat 2 desa yang berlokasi di bibir pantai dan dipisahkan oleh pegunungan yaitu Desa Padang dan Desa Betok. Bahasa yang digunakan di kedua desa adalah bahasa melayu. Perbedaannya yaitu di Desa Padang yang karena dekat dengan Kalimantan barat, maka bahasa melayunya pun sama dengan bahasa melayu Kalimantan (huruf “R” terbaca tidak jelas) dan di Desa Betok yang dekat dengan Belitung, bahasa melayu di Desa Betok sama dengan bahasa melayu Sumatra (huruf “R” terbaca jelas).
Pulau Karimata tidak bisa dikatakan terpencil, penduduk di Desa Padang maupun Desa Betok sering berlayar ke Kalimantan atau ke Belitung. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti belanja makanan atau logistik, pakaian, kendaraan, maupun perabotan rumah tangga lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, terkadang tiap 2 hari sampai 4 hari sekali ada kapal warga yang pergi menyebrang menuju Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Ketapang. Walaupun hanya ada 1 kapal yang pergi ke Ketapang, namun ketika kapal tersebut kembali ke Desa Padang atau Desa Betok, kapal ini membawakan titipan kebutuhan orang banyak. Penduduk di Desa Betok yang masih remaja biasanya pergi ke Belitung untuk mencari pekerjaan atau merantau. Penduduk di Desa Betok juga ada yang memiliki rumah di Belitung.
Ada kebiasaan warga yang unik seperti membaca kalimat doa ketika hendak memetik daun atau menebang kayu. Ada juga kebiasaan warga yang mulai hilang yaitu mencari sarang burung walet sebagai alternatif mata pencaharian selain nelayan, ini disebabkan sarang burung walet sudah sulit ditemui karena over eksploitasi. Selain itu kebiasaan tradisonal yaitu masih adanya kepercayaan terhadap dukun. Untuk meminta keselamatan atau kebutuhan berhubungan hal magis, warga meminta dukun untuk membantu mereka.
Perkembangan teknologi penduduk di pulau ini bisa dikatakan tidak ketinggalan jaman. Tenaga listrik diperoleh dari genset yang ada di rumah sebagian penduduk (tidak semua rumah memasang genset, biasanya 1 genset bisa digunakan untuk menyalurkan listik untuk 2-5 rumah). Tower sinyal telepon selular sudah ada juga di Pulau Karimata, hanya saja kendalanya towernya kecil dan sinyal tidak kuat, serta keterbatasan waktu penggunaan telepon selular karena sumber tenaga untuk menghidupkan tower/sinyal itu memakai tenaga sel surya. Kebanyakan warga baik bapak-bapak maupun anak kecil sudah memiliki telepon selular. Ada satu lagi yaitu penggunaan GPS pada tiap kapal nelayan.
POTENSI WISATA
Pulau Karimata memiliki potensi wisata yang menarik karena memiliki bentang alam yang unik dan memiliki ekositem alam yang lengkap, menurut pengamatan dilapangan Pulau Karimata memiliki bentang lahan mulai dari pantai, dataran rendah hingga dataran tinggi, Pulau karimata juga memiliki sungai-sungiu besar yaitu Sungai Guntong, Sungai Tayan, Sungai Beto, Sungai Are, Sungai Gelombang dan Sungai Raya, dimana di setiap sungai dan pantai memiliki potensi Hutan mangrove yang masih alami dan banyak atraksi hewan yang dapat di saksikan secara langsung.
Pantai di Pulau Karimata memiliki berbagai macam bentuk pantai dari pantai pasir putih yang panjang, pantai berkarang, dan pantai berbatu yang mirip seperti pantai pantai di Pulau Belitung. Musim angin utara di Pantai Pasir panjang yang terletak di Teluk Penghujan memiliki potensi untuk olahraga selancar air, karena teluk tersebut diapit oleh dua tanjung besar sehingga dapat menghasilkan ombak yang tinggi dan lumayan panjang.
Pulau Karimata memiliki banyak perbukitan dan puncak tertinggi 1050 mdpl, potensi hutan pegunungan yang meliputi berbagai tegakan hutan dan air terjun merupakan daya tarik tersendiri bagi wisata minat khusus dan petualangan. Pantai yang memiliki panorama yang indah meliputi Pantai Teluk Alam, Pantai Pasir panjang, Pantai Lising, Pantai Teluk Biang, Pantai Pualu Kepahiang, Pantai Pulau Bungkuk, Pantai Pulau Busung, Pantai Surunggading. Perbukitan Pulau Karimata memiliki potensi air terjun, seperti Air Terjun Bidadari dan Air Terjun Air Gemuruh dan Wisata pendakian Gunung Cabang yang memiliki ketinggian 1050 mdpl.
PERMASALAHAN PADA KAWASAN CAGAR ALAM PULAU KARIMATA
Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan baik dengan melihat keadaan langsung maupun dari informasi-informasi yang didapat dari masyarakat lokal dan pemerintah daerah, terdapat permasalahan-permasalahan yang timbul menyangkut status Pulau Karimata.
Pertama, kegiatan penebangan pohon pada Cagar Alam. Saat ini masih banyak orang dari luar pulau yang masuk Pulau Karimata untuk bekerja menebang pohon kelapa. Hampir tiap hari bisa didengar suara mesin penebang kayu. Penebangan yang sekarang masih terjadi adalah penebangan pohon kelapa oleh pekerja-pekerja dari luar pulau dan penebangan pohon oleh masyarakat lokal untuk kebutuhan membuat kapal atau rumah. Namun dulu, 3 atau 4 tahun sebelumnya pernah terjadi penebangan pohon dalam skala besar untuk jenis pohon Agathis. Selain itu juga ada keinginan dari masyarakat untuk berkebun atau menanami pohon karet yang dapat menghasilkan hasil yang dapat dijual dan menambah pendapatan masyarakat. Untuk itu masyarakat melakukan pembukaan hutan di daerah tertentu.
Kedua, kegiatan pengeboman ikan di laut yang merusak ekosistem karang Pulau Karimata. Kebutuhan masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya berupa nelayan sangat bergantung pada hasil laut yaitu ikan membuat sebagian nelayan mencari ikan dengan cara apapun,antara lain dengan bom. Pengeboman dilakukan saat bulan-bulan tertentu ketika sulit mendapatkan ikan dengan pukat. Masih ada banyak kapal yang dilengkapi dengan alat selam memakai radiator yang biasa digunakan pengebom untuk melakukan aksinya.
Ketiga, penurunan status Pulau Karimata. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari BAPPEDA bahwa status Cagar Alam Laut Pulau Karimata akan diturunkan menjadi Hutan Lindung dan HPL. Kawasan hutan lindung mencakup seluruh kawasan hutan di Pulau Karimata yang tidak dihuni oleh masyarakat desa. Sedangkan kawasan HPL mencakup kawasan desa yang dihuni oleh masyarakat dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Karimata. Permohonan proses penurunan status ini sudah mencapai tahap ketiga dari lima tahap, tinggal diajukan ke DPR dan bagaiman hasilnya.
Karena itu, atas landasan kecintaan kami terhadap alam Indonesia, kembali menggugah kami untuk berekspedisi di Pulau Karimata. Sebuah pulau dengan potensi keanekaragaman flora dan fauna yang melimpah, dimana keindahan dan potensi masih tersembunyi dan siap untuk menunjukkan diri kepada dunia. Melalui ekspedisi, kajian dan potensi Cagar Alam Laut Pulau Karimata tentunya akan lebih tersurat dan lebih berlimpah. Melalui ekspedisi pulalah, kita bisa lebih dekat dengan alam dan lingkungan. Dengan keingintahuan dan penyelidikan, melalui usaha dan kerja keras. Kali ini, Mapala Silvagama diberi kesempatan itu menunjukkan kebolehannya, sebagai organisasi konservasi alam, sebagai organisasi kekeluargaan, dan sebagai organisasi kepencintaalaman.
*sumber data : survey mapala Silvagama Juli 2011











