Parangndog merupakan sebuah tempat pemanjatan tebing yang terbentuk dari batuan karst yang terletak di kawasan Watu Gapit, Gunung Kidul. Bagi para penggiat alam bebas, khususnya di daerah Yogyakarta pastinya telah mengenal daerah parangndog dengan baik. Parangndog terletak di barisan laut selatan, beberapa ratus meter ke arah timur dari Pantai Wisata Parangtritis. Akses menuju ke sana biasanya teman-teman menggunakan motor karena lebih praktis dan jaraknya tidak terlalu lama, sekitar 45-60 menit. Bisa juga menggunakan bus kota dengan jurusan Parangtritis, kemudian dilanjut menggunakan angkutan lokal seperti ojek.
Kawasan dengan tebing menantang yang kebanyakan telah terpasang jalur sport dan pemandangan indah dari hamparan luas laut selatan membuat banyak orang berkunjung kesana, untuk mencoba jalur panjat atau sekedar melepas penat. Akan tetapi, di daerah yang biasanya digunakan teman-teman sebagai basecamp yaitu warung yu Mar kondisinya cukup panas karena kurangnya vegetasi yang tumbuh disekitarnya. Selain itu banyak sampah yang berserakan karena intensitas tinggi dari pengunjung yang datang.
Pada tanggal 25-26 Sepetember 2010, Mapala Silvagama beserta mahasiswa kehutanan angkatan 2010 mengunjungi Parangndog untuk kesekian kalinya. Berbeda dari kegiatan biasanya, kunjungan Silvagama kali ini disertai beberapa tujuan. Melalui kegiatan yang betajuk “Hijau Parangndog, Lestari Jogjaku”, selain memperkenalkan kegiatan panjat tebing dan memperlihatkan keindahan tanah air kepada adik-adik agar semakin mencintai alam, Silvagama menyisipkan kegiatan yang lebih utama didalam hal konservasi alam yaitu penanaman bibit dan kegiatan bersih bersama kawasan Parangndog. Silvagama melalui kegiatan ini berkeinginan agar daerah sekitar sedikit lebih bersih seperti semestinya dan udara yang semula panas dapat menjadi lebih sejuk dengan hadirnya pepohonan. Pengunjung merasa lebih enak dalam menikmati apabila daerah lebih bersih dan sejuk. Selain itu, inilah perwujudan dari Silvagama dalam memenuhi esensinya sebagai pencinta alam sesuai tujuannya dalam hal kepencintaalaman dan konservasi yang dibanggakan agar tidak sekedar menjadi manifestasi belaka.
Silvagama sadar yang dilakukan bukanlah hal yang besar dan berarti, namun sedikitnya kami bisa berbangga karena selain berpetualang di alam bebas, kami masih bisa menghadirkan manfaat bagi daerah dan masyarakat sekitar yang kami kunjungi. Terlebih lagi apabila kegiatan ini bisa menginspirasikan bagi teman-teman lain agar semakin banyak perbaikan di alam sehingga menjadi lebih baik. Untuk melakukan hal yang bermanfaat tidaklah perlu besar dan spektakuler, dengan kegiatan kecil dan konsistenpun kita masih bisa menghadirkan banyak manfaat untuk bumi kita. Hijau bumiku, lestari alamku.
(rama andre)











