Catatan Perjalanan : Eksplorasi Karst Klapanunggal

Pengembaraan Divisi Susur Gua Gladian XXXIII Walabi (Macropus agilis) Mapala Silvagama

 

Foto oleh : Rafi’ul Aziz

“Hallo jhon, Hallo jhon, Hallo jhon, Silva!” seru kami siang itu di depan sekretariat. Hari yang dinantikan telah tiba, hari dimana kami akan melaksanakan pengembaraan divisi susur gua. Segala persiapan telah kami rencanakan dengan matang untuk menuju ke lokasi pengembaraan kami di wilayah karst Klapanunggal yang terletak Desa Leuwi Karet, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Tim kami terdiri dari 7 orang, yaitu Tya (Gladian Walabi), Rizka (Gladian Walabi), Ninik (Gladian Walabi), Juju (Gladian Gagak),  Ayu (Gladian Owa), Rezky (Gladian Biawak), dan Aziz (Gladian Biawak). Perjalanan kami berlangsung selama lima hari, tepatnya pada tanggal 7-11 maret 2018.

MENUJU KOTA HUJAN

Kami berangkat dari jogja pada hari Rabu, 7 Maret 2018. Perjalanan dimulai dari sekretariat kami menuju Stasiun Lempuyangan. Kami berangkat dari Stasiun Lempuyangan pada pukul 15.30 WIB menggunakan kereta Bengawan, dan sampai di Stasiun Jatinegara pada dini hari. Sesampainya di Stasiun Jatinegara, kami langsung dijemput oleh saudara Rizka dan langsung menuju Desa Leuwi Karet. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan kami tempuh untuk menuju basecamp pak Eman yang terletak di Desa Leuwi Karet, tempat kami akan bermalam selama dua hari ke depan. Sesampainya disana, kami sempat kebingungan mencari letak basecamp Pak Eman karena letak rumahnya yang berada pada gang-gang sempit dan gelap. Setelah berhasil menemukan basecamp Pak Eman, kami pun bergegas menata barang bawaan kami dan sedikit berbincang santai dengan Pak Eman,. Tak lama usai pengarahan untuk satu hari kedepann, satu persatu dari kami pun terlelap karena sudah lelah seharian menempuh perjalanan dan harus melanjutkan kegiatan pada pagi harinya.

 

MENEROKA GUA CIDUREN

Foto oleh : Kirana Raditya

Pada pagi hari Kamis, 8 Maret 2018, kami bergegas mempersiapkan alat-alat untuk penelusuran gua. Selesai bersiap dan sarapan, kamipun berangkat menuju entrance yang berajarak kurang lebih 15 menit dari basecamp.  Kami sampai di entrance gua Ciduren pada pukul 09.30 WIB. Rizka sebagai riggingman langsung bersiap memasang SRT set dan menyiapkan tali untuk menuruni gua Ciduren, sementara yang lain merapikan peralatan dan menyiapkan shelter untuk tempat singgah kami. Entrance Gua Ciduren berukuran kecil, sekitar 2×2 meter saja dan dikelilingi oleh tembok tinggi. Kata warga di sana, tembok tersebut dulunya merupakan rumah untuk budidaya walet.

Di sekitar entrance terdapat anchor-anchor alami berupa akar pohon dan beberapa lubang tembus alami. Rizka pun memulai riggingnya. Satu persatu anchor dan simpul selesai dipasang, Rizka mulai memasuki mulut gua yang sempit. Sesampainya di dasar gua, tim yang lain tidak langsung menyusul untuk ascending, tetapi Rizka kembali naik lagi ke entrance. kami memang tidak langsung turun gua, kami menunggu sampai jam 1 siang karena kata pak Eman, setiap jam 12 hingga pukul satu siang akan diledakkan bom pada pertambangan kapur di sekitar gua dan biasanya menyebabkan getaran yang lumayan kencang sampai ke dalam gu, sehingga cukup bahaya jika berada di dalam gua pada jam-jam tersebut. Kamipun menunggu sambil memasak dan makan siang. Pada pukul 13.30 tanda-tanda adanya bom sama sekali belum kami dengar. Kamipun memutuskan untuk memulai penelusuran gua pada saat itu juga. Satu persatu dari kami mulai menuruni gua.

Diawali oleh Rizka sebagai rigging man dan disusul Tya sebagai second man, lalu disusul oleh Ninik, Ayu, dan Juju. Entrance yang kami lewati merupakan lubang sempit yang hanya muat dimasuki oleh satu orang. Sekitar 5 meter menuruni lubang sempit, lalu kami disambut oleh chamber luas sedalam 18 meter ke bawah. gua hanya terdapat 1 pitch. Chamber tersebut berbentuk memanjang dengan lebar sekitar 7 meter, dan panjang 25 meter. Terdapat cekungan memanjang sedalam 2 meter pada dasar gua yang merupakan jalan air, terdapat aliran air yang tidak terlalu deras di sana. Setelah semua anggota tim sampai di dasar gua, kamipun memulai melakukan pemetaan pada gua tersebut. Satu persatu stasiun kami tentukan dan kami ukur serta kami bidik dengan kompas dan klinometer. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, kami hanya memetakan setengah dari chamber tersebut, dan sisanya kami lanjutkan dengan  eksplorasi. Pada dua sisi chamber tersebut terdapat lorong-lorong sempit yang panjang. Di sisi chamber yang pertama, kami sampai harus merunduk, merangkak, dan kadang merayap untuk menyusurinya, dan dalam keadaan terendam aliran air. Terdapat 2 chamber yang cukup luas setelah lorong-lorong sempit tersebut. Dan beberapa slope yang tidak dapat kami susuri karena keterbatasan alat. Pada sisi yang lain dari chamber utama, terdapat slope menanjak dan sebuah lorong sempit yang terdapat banyak runtuhan batuan. Kami memutuskan untuk tidak memasukinya karena kondisi lorong yang tertutup batu-batuan. Setelah puas menyusuri gua dan mengambil beberapa foto, kami pun satu persatu naik kembali ke entrance. jam menunjukan pukul 18.00 ketika orang pertama naik. Setelah semua sampai di entrance, kami pun membereskan alat dan pulang menuju basecamp pak Eman ditemni oleh anak Pak Eman. Sesampainya di basecamp, kami segera membersihkan diri dan makan malam, lalu dilanjutkan dengan evaluasi dan istirahat.

MENILIK MASYHURNYA GUA KERATON


Foto oleh : Kirana Raditya

Pada hari kedua kami memasuki Gua Keraton. Gua Keraton sendiri adalah gua vertikal yang terdiri dari 4 pitch. Butuh 20 menit berjalan dari basecamp untuk menuju entrance. Kami saat itu ditemani oleh beberapa orang dari Palikar (Pecinta Alam Leuwi Karet). Bagi para penelusur gua di daerah Jawa Barat, Gua Keraton sudah cukup dikenal namanya. “Kalau kata para penelusur disini,kurang afdal kalau kesini tapi belum turun ke Gua Kraton” ujar Bang Jul yang merupakan salahsatu anggota Palikar sembari menemani kami yang sedang bersiap-siap. Namun, semakin banyak para pegiat alam bebas yanng berkunjung ke gua ini, pengelola mulai membatasi pengunjung yang akan memasuki gua tersebut guna menjaga kelestariannya.

Foto oleh : Zul Khaidir

Kami sampai di entrance gua pukul 7.50 WIB, dan untuk menuju pitch pertama kami harus masuk melewati gua horizontal sekitar 50 meter ke dalam untuk sampai ke entrance gua vertikal. Kali ini giliran Ninik sebagai riggingman yang mempersiapkan jalur untuk menuju ke pitch 1. Pitch 1 sendiri memiliki kedalaman sekitar 8 meter dan dasarnya berbentuk teras berukuran sekitar 4×4 meter dan hanya muat untuk 5 orang. lalu giliran Rizka sebagai riggingman menuju pitch 2  yang mempersiapkan jalur untuk kami. Satu persatu dari kami pun turun ke pitch 2 yang memiliki kedalaman sekitar 10m. Pada pitch 2 terdapat sebuah teras berukuran 5×5 dan sebuah chamber kecil dengan pintu yang cukup sempit. Chamber pada pitch 2 ini dipenuhi oleh ornamen khas gua seperti stalagtit, stalagmit, dan sejumlah kecil sodastraw dan helektit, serta banyak kelelawar di dalamnya.

Foto oleh : Kirana Raditya

DIAKHIRI DENGAN CIKARAY

Kini Tya yang bertugas sebagai riggingman untuk menuju pitch 3. Tidak banyak lubang tembus yang terdapat di pitch 2 ini, anchor kami hanya bertumpu pada stalagmit-stalagmit gua. Kedalaman pitch 3 sekitar 15  meter, sekitar 7 meter dibawah pitch 2, medan yang harus ditempuh adalah dinding gua dan disambung dengan blank hingga ke dasar gua. Sayang, keadaan medan lintasan  terdapat banyak batu tajam dan sedikit lubang tembus, dan melihat padding yang kami bawa sangat terbatas, kami memutuskan untuk tidak menurunkan semua anggota tim ke pitch 3 karena takut tali yang kami bawa friksi. Akhirnya Tya pun kembali naik ke pitch 2 dan kami mengambil beberapa gambar di dalam chamber pitch 2 tersebut. Pada pukul 17.00 WIB orang pertama naik ke entrance disusul semua anggota tim sampai pukul 18.30 WIB. setelah itu kami beristirahat sejenak dan langsung beres-beres dan kembali ke basecamp, lalu dilanjutkan dengan evaluasi dan istirahat.

 

Foto oleh : Rafiúl Aziz

Hari ke 3, hari terakhir kami di desa Leuwi Karet, kami memasuki Gua Cikaray. Gua Cikaray merupakan gua horizontal yang letaknya berada di tanah pribadi milik salah satu warga desa. Untuk sampai ke entrance dibutuhkan waktu 15 menit berjalan kaki dari basecamp. Kami sampai entrance pada pukul 08.00 dan langsung bersiap untuk memasuki Gua Cikaray. Entrance gua berupa slope panjang dan berakhir pada sebuah chamber yang sangat luas dan menurun. Jika turun ke bawah maka akan dijumpai sebuah lorong dengan jalan yang bercabang-cabang dan dialiri air dibawahnya. Pada salah satu lorong terdapat sebuah aven kecil yang membawa masuk sedikit cahaya ke dalam gua. Lorong tersebut berakhir di sebuah chamber yang cukup luas dan berbentuk cekungan. Dan jika kita naik ke atas dari chamber utama, maka akan dijumpai beberapa lorong pendek yang bercabang dan sebuah entrance lain. Lorong-lorong di bagian atas tidak sepanjang dan sebasah lorong yang berada di bawah.

Foto oleh : Rafi’ul Aziz

Di dalam Gua Cikaray, kami menemukan banyak fauna seperti kelelawar, kalacemeti, dan udang purba. Istimewanya, kami menemukan ikan lele selama penelusuran. Setelah puas menyusuri gua sampai ke ujung-ujungnya kamipun melakukan sesi fotografi gua di beberapa sudut Gua Cikaray.

Foto oleh : Rafiúl Aziz

Pada pukul 13.00 WIB kami keluar entrance dan beristirahat sejenak sambil makan siang. Setelah itu kami pun beres-beres dan menuju basecamp Pak Eman untuk packing dan berpamitan. Pada pukul 17.00 kamipun berpamitan dengan pak eman untuk pulang. Namun sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk mampir bersilaturahmi ke Basecamp Palikar.

Foto oleh : Rafiúl Aziz

Pada pukul 18.00 WIB pun kami melanjutkan perjalanan kami ke rumah rizka di daerah Depok. Kami menghabiskan malam terakhir kami di rumah Rizka dengan beristirahat dan ngobrol-ngobrol santai. Keesokan harinya, kamipun berangkat pukul 09.00 WIB menuju stasiun pasar senen dan pulang pukul 11.20 WIB menggunakan kereta bengawan, dan sampai di jogja pada pukul 20.00 WIB dengan selamat.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *